Mataram (Suara NTB) – Pemerintah Provinsi NTB memastikan telah menghentikan penerbitan izin masuk telur ayam konsumsi dari luar daerah ke Pulau Lombok selama hampir tiga bulan terakhir. Kebijakan ini diambil untuk melindungi peternak lokal yang saat ini tertekan akibat anjloknya harga telur di tingkat peternak.
Demikian ditegaskan Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakeswan) Provinsi NTB, Muhammad Riadi. Menurutnya, pemerintah daerah sudah tidak lagi memberikan rekomendasi pemasukan telur dari luar daerah sejak menjelang Hari Raya Iduladha 2026.
“Kalau dari luar, praktis sudah hampir tiga bulan kami tidak pernah memasukkan telur ke Lombok. Yang resmi tidak ada. Jadi kalau masih ada yang masuk, itu penyelundupan melalui jalur ilegal,” jelas Riadi, Rabu (8/7/2026).
Menurutnya, pemerintah tetap memberikan pengecualian dalam jumlah yang sangat terbatas untuk kebutuhan di Pulau Sumbawa karena populasi peternak ayam petelur di wilayah tersebut masih sedikit.
“Khusus Sumbawa memang sempat ada dua distributor yang kami izinkan, tetapi sangat dibatasi karena produksi di sana belum mencukupi kebutuhan,” katanya.
Harga Telur di Peternak Mengalami Tekanan
Riadi mengakui harga telur di tingkat peternak memang sedang mengalami tekanan. Namun, menurutnya kondisi tersebut bukan semata-mata disebabkan oleh membanjirnya telur dari luar daerah, melainkan melemahnya permintaan pasar.
Ia menjelaskan NTB sebenarnya sudah lama berada dalam kondisi surplus produksi telur. Kondisi itu masih dapat diserap pasar ketika Program Makan Bergizi Gratis (MBG) berjalan. Namun setelah program tersebut berhenti sementara, permintaan telur ikut menurun sehingga harga di tingkat peternak mulai tertekan.
Menurut Riadi, persoalan terbesar justru terjadi pada rantai distribusi. Pengepul dinilai memiliki posisi tawar yang lebih kuat ketika permintaan melemah.
Sementara itu, harga telur di tingkat konsumen masih relatif stabil. Berdasarkan pemantauan Disnakeswan saat kunjungan Wakil Gubernur NTB ke Pasar Bima, harga telur masih berkisar Rp55 ribu hingga Rp60 ribu per tray. “Jadi gejolak harga itu sebenarnya terjadi di tingkat peternak, bukan di pasar,” katanya.
Riadi tidak menampik sudah ada peternak yang mulai menjual aset usahanya akibat terus merugi. Namun, menurutnya jumlahnya belum sebanyak yang dikhawatirkan.
Ia menilai kelompok peternak kecil menjadi pihak yang paling rentan karena memiliki modal terbatas untuk menanggung kerugian dalam waktu lama. “Tinggal mereka mampu bertahan atau tidak sampai kondisi pasar kembali normal,” katanya.
Pemprov NTB Siapkan Langkah Serap Produksi Peternak
Selain menghentikan izin pemasukan telur dari luar daerah, Pemprov NTB juga menyiapkan sejumlah langkah untuk menyerap produksi peternak lokal.
Riadi mengatakan pihaknya telah memanggil perusahaan penyedia bahan pangan bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) agar memprioritaskan pembelian telur dan daging ayam produksi NTB.
“Hari ini kami mengundang vendor pemasok kebutuhan ASN. Alhamdulillah mereka sudah mengambil telur dari peternak lokal. Untuk daging ayam beku juga mulai diarahkan menggunakan produk lokal, meski kualitasnya masih terus kita tingkatkan,” jelasnya.
Di sisi lain, Disnakeswan juga akan mengumpulkan peternak-peternak besar di NTB untuk mencari pasar baru di luar daerah.
Perusahaan peternakan besar akan didorong memperluas pemasaran ke wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) maupun daerah lain agar kelebihan produksi telur di NTB dapat terserap.
“Besok kami kumpulkan peternak besar. Kami dorong mereka mencari pasar ke luar NTB supaya produksi telur tidak semuanya beredar di dalam daerah. Mudah-mudahan mereka punya akses pasar di luar,” ujarnya.
Riadi menegaskan pemerintah tidak tinggal diam menghadapi anjloknya harga telur. Selain membatasi pemasukan telur dari luar daerah, pemerintah juga terus berkoordinasi dengan asosiasi peternak untuk mencari solusi agar usaha peternak, khususnya skala kecil, dapat bertahan hingga kondisi pasar kembali membaik.
“Kami terus berupaya. Bukan berarti pemerintah diam. Kami berusaha menjaga agar produk peternak lokal tetap terserap dan kondisi pasar bisa segera pulih,” tegasnya. (bul)

