Mataram (Suara NTB) – Pada Kamis (9/7/2026), Universitas Mataram (Unram) kembali menegaskan komitmen dan langkah nyata sebagai perguruan tinggi yang berorientasi pada dampak bagi masyarakat. Melalui Program Profesor Berdampak, Unram menggerakkan para guru besar untuk terjun langsung ke desa, memberikan pendampingan, alih teknologi, serta solusi berbasis riset yang menjawab tantangan ekonomi, sosial, dan lingkungan.
Inisiatif ini menjadi wujud nyata kontribusi akademisi dalam pembangunan berkelanjutan sekaligus memperkuat peran perguruan tinggi sebagai agen transformasi masyarakat. Dengan menjembatani riset dan kebutuhan nyata di lapangan, program ini menegaskan langkah nyata Unram sebagai perguruan tinggi yang tidak hanya menghasilkan pengetahuan, tetapi juga menghadirkan solusi yang memberi nilai keberlanjutan bagi komunitas.
Dalam pengantar kebijakannya, Rektor Unram Prof. Dr. Sukardi, M.Pd., menegaskan bahwa Program Profesor Berdampak bukan sekadar agenda administratif, melainkan komitmen moral dan profesional untuk menghadirkan solusi berbasis ilmu pengetahuan. Sebanyak 23 profesor akan mendampingi desa berdaya selama tiga tahun, dengan fokus pada pendampingan, alih teknologi, serta penguatan ekonomi, sosial, dan lingkungan.
“Hari ini bukan sekadar penandatanganan kontrak, tetapi komitmen moral dan profesional untuk menghadirkan solusi nyata. Perubahan besar akan lahir ketika ilmu pengetahuan benar-benar hadir di tengah masyarakat, menjadi kebijakan, menjadi produk, dan pemberdayaan. Karena itu, kami berharap para profesor berangkat dengan ilmu, namun juga bekerja dengan hati, berkolaborasi rendah hati bersama masyarakat dan industri. Lebih dari sekadar laporan, kami ingin lahir cerita-cerita nyata dari desa berdaya, yang dapat dibagikan dan dicatat, setidaknya melalui website resmi Unram, sebagai bagian dari kontribusi kita terhadap pencapaian pembangunan berkelanjutan,” ungkap Prof. Sukardi.
Pemerintah Tidak Boleh Abaikan Suara Ilmuan
Dalam arahannya, Gubernur NTB Dr. H. Lalu Muhamad Iqbal menegaskan bahwa pemerintah tidak boleh mengabaikan suara ilmuan. “Setiap film bencana selalu dimulai dari pemerintah yang mengabaikan ilmuwan. Untuk itu saya tidak ingin NTB ke depan masuk dalam situasi bencana karena kita tidak mendengarkan ilmuannya,” tegasnya.
Ia menambahkan bahwa para profesor adalah ulama dalam arti luas, yakni orang-orang berilmu yang mampu memberi manfaat. “Dengan ilmu yang Bapak Ibu miliki, kami di Pemerintah Provinsi NTB berharap ikhtiar kami yang penuh keterbatasan bisa terbantu. Mudah-mudahan dari ilmu yang sudah terhimpun dalam diri Bapak Ibu Profesor, lahir manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat kita,” ujarnya.
Gubernur NTB juga berbagi pengalaman pribadinya selama 28 tahun berkarier, sekarang menyaksikan langsung kemiskinan ekstrem di lapangan. Ia menyebut kondisi ini sebagai “kemiskinan sempurna” mereka yang sakit-sakitan, tidak punya skill, pengetahuan. Karena itu, ia menekankan pentingnya membangun jejaring sosial dan keamanan sosial. “Sekali lagi saya mengucapkan terima kasih. Inilah saatnya untuk berbuah, menghasilkan manfaat yang nyata, dan dirasakan oleh orang-orang yang paling membutuhkan di desa maupun di pusat. Saya yakin, dengan niat baik. Bersama insya Allah kita bisa menciptakan dampak,” pungkasnya.
Penandatanganan kontrak profesor berdampak menandai komitmen bersama Unram dan Pemerintah Provinsi NTB untuk menjadikan perguruan tinggi sebagai mitra strategis pembangunan daerah. Program Profesor Berdampak diharapkan menjadi motor penggerak transformasi desa sekaligus memperkuat kontribusi Unram dalam pembangunan berkelanjutan.
Dengan langkah ini, Unram meneguhkan diri sebagai kampus yang tidak hanya menghasilkan ilmu, tetapi juga menghadirkan dampak nyata bagi masyarakat, membangun perubahan, dan menyalakan harapan. Dari desa berdaya hingga pusat kebijakan, kiprah para profesor akan menjadi bagian penting dalam perjalanan menuju masa depan NTB yang lebih inklusif dan berkelanjutan. (ron/*)

