Selong (Suara NTB) – Universitas Terbuka (UT) kembali menunjukkan komitmennya dalam mendukung penguatan ekonomi masyarakat pesisir melalui program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Dosen Tahun 2026. Bertajuk “Scale-Up UMKM Pesisir: Transformasi Digital dan Modernisasi Produksi Olahan Ikan”, kegiatan ini digelar di Aula Kantor Desa Padak Guar, Kecamatan Sambelia, Kabupaten Lombok Timur, NTB, pada Jumat (24/7/2026).
Program pemberdayaan ini menyasar Kelompok Pengolah dan Pemasar Hasil Perikanan (Poklahsar) “Amertha Bahari”, sebuah wadah pemberdayaan perempuan pesisir yang dibentuk Pemerintah Desa Padak Guar sejak Februari 2023.
Sebanyak 13 perempuan anggota Poklahsar Amertha Bahari selama ini aktif memproduksi berbagai kuliner bernilai tambah, seperti Kerupuk Tinta Cumi, Abon Ikan Tuna, dan Basreng Ikan. Produk-produk tersebut tidak hanya menguasai pasar lokal Desa Padak Guar dan Kecamatan Sambelia, tetapi juga mensuplai kebutuhan protein di beberapa dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG) serta menjadi oleh-oleh favorit wisatawan yang berkunjung ke kawasan gili di wilayah Padak Guar.
Kendati memiliki potensi pasar menjanjikan, kapasitas produksi kelompok ini masih stagnan di kisaran 50 kg bahan baku per bulan. Masalah utama bersumber dari penggunaan alat produksi tradisional yang membatasi daya simpan produk, serta belum terpenuhinya legalitas standar keamanan pangan yang disyaratkan untuk menembus pasar ritel modern di Pulau Lombok.
Menjawab persoalan tersebut, tim dosen Universitas Terbuka yang dipimpin oleh Dr. Hulaifi, S.Pi., M.Agr., hadir memberikan intervensi teknologi tepat guna sekaligus memperkuat kapasitas sumber daya manusia para anggota kelompok.
“Potensi perikanan Desa Padak Guar sangat luar biasa. Masalahnya, basreng dan abon mereka sulit bertahan lama karena minyak yang tersisa dalam kemasan serta kapasitas goreng kompor biasa yang terbatas. Melalui program ini, kami memberikan bantuan teknologi kompor jos, serta mendampingi mereka agar memahami pentingnya manajemen mutu dan pemasaran digital,” tegas Hulaifi.
Guna menjamin keberlanjutan produk di rantai pasok yang lebih luas, kegiatan ini turut menggandeng Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi NTB untuk menyosialisasikan pentingnya Sertifikat Kelayakan Pengolahan (SKP).
Hadir sebagai narasumber, Rina Susanti, S.St.Pi (Pembina Mutu Ahli Muda DKP NTB), memaparkan bahwa SKP merupakan syarat mutlak yang diamanatkan oleh UU No. 31/2004 jo. UU No. 45/2009 serta Permen KP No. 3/2024. Sertifikasi ini menjadi bukti sah bahwa Unit Pengolahan Ikan (UPI) telah menerapkan prinsip Good Manufacturing Practices (GMP) dan Sanitation Standard Operating Procedures (SSOP).
“Pengolahan bukan sekadar mengawetkan, melainkan menciptakan nilai ekonomi ekstra. Dengan menjaga rantai dingin (cold chain), memisahkan zona mentah dan matang, serta mengantongi SKP, produk dari Desa Padak Guar dipastikan aman, higienis, berdaya saing, dan siap dipajang di rak-rak ritel modern,” ujar Rina Susanti di hadapan para peserta.
Selain penguatan aspek teknis produksi dan legalitas, tim PkM UT juga berkolaborasi dengan dosen Agribisnis dari Universitas Mataram, Dr. I Gusti Ngurah Aryawan Asasandi, SP., M.Si. , dalam sesi “Dapur Digital”. Para perempuan pesisir diajarkan memanfaatkan gawai (smartphone) mereka untuk tiga langkah strategis:l.
Pertama, fotografi Produk & Branding: Menguasai teknik pencahayaan dan sudut pengambilan gambar agar tampilan abon dan kerupuk terlihat menggugah selera. Kedua, oemasaran Media Sosial: Membuat konten video kreatif (Reels/TikTok/Instagram) serta mengoptimalkan WhatsApp Business melalui fitur katalog digital dan balasan otomatis. Ketiga, E-Commerce & Digital Presence: Mendaftarkan lokasi usaha di Google Business Profile serta mengoperasikan toko online di marketplace seperti Shopee dan Tokopedia.
Ketua Poklahsar Amertha Bahari, Desi Rahmayanti, menyampaikan rasa haru dan terima kasihnya atas kepedulian akademisi Universitas Terbuka, Universitas Mataram, dan DKP NTB.
“Kami sangat terbantu. Dulu kami bingung bagaimana caranya agar produk basreng tidak cepat tengik dan bagaimana mengurus izin ke ritel modern. Sekarang kami punya alat produksi, paham aturan SKP, dan tahu cara promosi di HP. Kami berharap pendampingan ini terus berlanjut agar ekonomi keluarga kami di pesisir bisa makin sejahtera,” ungkap Desi. (rus)

