BerandaNTBLOMBOK BARATIroni Daerah Lingkar Bendungan Meninting (1), Warga Desa Bukit Tinggi Terpaksa Ambil...

Ironi Daerah Lingkar Bendungan Meninting (1), Warga Desa Bukit Tinggi Terpaksa Ambil Air hingga Dua Kilometer

- Advertisement -

Daerah penyangga yang berada di lingkar Bendungan Meninting, Kecamatan Gunungsari Lombok Barat (Lobar) menghadapi situasi semacam ironi, karena menjadi langganan bencana kekeringan setiap musim kemarau. Kondisi ini bertolak belakang dengan adanya Bendungan senilai Rp1,4 triliun yang diresmikan Presiden Prabowo Subianto pada bulan Juli 2026 lalu. Padahal Bendungan itu berdaya tampung 10 juta meter kubik.

WARGA Tunjang Polak, Desa Bukit Tinggi, Lobar, Hadijah tampak kegirangan saat armada pengangkut air milik PDAM tiba di dekat rumahnya. Dengan membawa ember di kepala, perempuan paruh baya itu bersama warga lain menyerbu armada pengakut air yang dikerahkan Pemkab.

Ember-ember dan bak penampung air pun berjejer di sepanjang pinggir jalan, menunggu giliran untuk diisi oleh petugas BPBD, Satpol PP dan Pemdes setempat. Dua Minggu lebih Hadijah menanti bala bantuan datang membawa air untuk kebutuhan sehari-hari. “Sudah lama kami krisis air ini, kesulitan mau masak, mandi dan lainnya,” tuturnya, Senin (24/8/2026).

Masyarakat setempat selama ini bergantung dari sumber air yang ada di hulu Bendungan Meninting yang dialirkan menggunakan perpipaan ke rumah-rumah penduduk. Krisis air bukan kali ini saja dialaminya, tetapi menjadi “makanan” hampir setiap tahun ketika musim kemarau tiba. Warga pun sebatas dikirimkan air oleh pemerintah.

Di daerah itu, ada Bendungan Meninting tetapi semenjak dibangun hingga diresmikan belum bisa dinikmati airnya oleh warga setempat. “Ada Bendungan disini, tapi airnya tidak sampai sini (perkampungan warga),” ujarnya.
Ia berharap kebutuhan air di desanya sebagai sentral atau pusat Bendungan bisa dipenuhi agar tidak terjadi lagi bencana kekeringan tahunan di desa tersebut.

Hal serupa diakaui Sri Indriani, yang juga warga setempat. Ia mengaku justru krisis air mulai dirasakan sejak sebulan terakhir. Terparah, krisis air ini mulai terjadi beberapa pekan terakhir ini. “Sejak pak Presiden datang itu (bulan Juli, red),” kenangnya.

Krisis air ini akibat debit sumber mata air yang menurun drastis akibat kemarau. Untuk bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari, ia pun terpaksa mengambil air di sungai Bendungan Meninting yang jaraknya hampir 1-2 kilometer.

Jauhnya jarak tempuh ditambah medan sangat menyulitkan warga mengambil air, tetapi ia tak punya pilihan lain. Sebab itu menjadi satu-satunya harapan warga untuk mendapatkan air. “Karena kami pakai untuk kebutuhan sehari-hari,” imbuhnya. Dalam sehari ia membutuhkan 5-10 ember air untuk semua kebutuhannya.

Ia dan warga lain hanya ingin agar tidak mengalami kekurangan air. “Harapan kami agar dibantu (dialirkan) dari bendungan itu,” harapnya.

Sementara itu, Kepala Desa Bukit Tinggi, Ahmad Mutakkin tak memungkiri jika dua dusun di wilayahnya langganan kekeringan. Karena wilayahnya berada di wilayah perbukitan. “Sehingga ketika musim kemarau kita sangat kekurangan air,” kata dia.

Sebelumnya, terdapat dua dusun yang krisis air, yakni Bukit Tinggi dan Tunjang Polak. Namun, untuk Dusun Bukit Tinggi ada alternatif lain disuplai dari sumber air milik Pondok Pesantren (Ponpes). Pihak Ponpes memberikan fasilitas untuk masyarakat bisa mengambil air.

Sedangkan untuk warga Dusun Tunjang Polak sebagian mengambil air ke sungai yang jaraknya lebih dari satu kilometer. Syukurnya akses menuju lokasi sedikit lebih bagus karena akses jalan terbangun, jika dibandingkan dulu sebelum ada bendungan. Warga bisa menggunakan kendaraan mengambil air. Namun, air sungai tidak layak konsumsi, karena dipakai warga untuk mandi dan mencuci pakaian.

Di satu sisi keberadaan bendungan menjadi dilema tersendiri, karena bendungan itu belum bisa dimanfaatkan 100 persen untuk masyarakat. Ditambah lagi debet air bendungan juga saat ini berkurang. Untuk kebutuhan air sehari-hari warganya selama ini diambil bukan dari Bendungan, tetapi mata air yang berada hulu bendungan tersebut.

Dulunya sumber mata air masyarakat berada di tengah hutan, tetapi dengan adanya hutan kemasyarakatan (Hkm) atau hutan kontrak sehingga pohon yang seharusnya atau asli di hutan itu sudah hilang. Pepohonan itu diganti menggunakan dengan pohon durian dan manggis.

“Itu tidak bisa menyerap atau menampung air sehingga disaat musim kering seperti ini, terjadi krisis air,” tuturnya.

Ditambah lagi ada sumber air di daerah itu terkena pembangunan bendungan sehingga warga hanya bergantung dari sumber air dari hulu bendungan tersebut. (her)

IKLAN

spot_img
RELATED ARTICLES

IKLAN









VIDEO