Mataram (Suara NTB) – PT Gerbang NTB Emas (GNE) akan melakukan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) pada akhir April 2026 ini. Selain akan melantik tiga direksi yang baru saja terpilih melalui Seleksi Terbuka (Selter), perusahaan milik daerah itu juga akan menentukan arah bisnis ke depannya.
Salah satu opsi yang akan dilakukan adalah dengan fokus hanya pada satu lini bisnis. Yaitu bisnis konstruksi yang selama ini masih berjalan di perusahaan tersebut.
Kepala Biro Ekonomi Pembangunan Setda NTB, Izzudin Mahili menyatakan, pemerintah provinsi saat ini sedang mematangkan skema tersebut agar PT GNE benar-benar kembali tumbuh pada jalur usaha yang sesuai dengan mandat awalnya.
“Kami sedang menyiapkan ekosistem konstruksi agar PT GNE tidak berjalan sendiri. Yang kami bangun bukan hanya perusahaannya, tetapi juga sistem pendukungnya. Jadi ada konektivitas antara kebutuhan pembangunan daerah, penguatan kelembagaan, dan peluang usaha yang bisa ditangkap PT GNE secara sehat dan terukur,” ujarnya.
Menurutnya, sebagai Perseroda yang dimiliki sepenuhnya oleh Pemprov NTB, PT GNE tidak bisa lagi berjalan tanpa arah. Perusahaan ini harus berdiri di atas satu lini usaha yang kuat, terukur, dan relevan dengan kebutuhan pembangunan daerah. Karena itu, Pemprov NTB kini tidak hanya menyiapkan figur manajemen, tetapi juga merancang sebuah skema besar berupa ekosistem konstruksi untuk menopang kebangkitan PT GNE.
Arah kebijakan ini, ujarnya, penting agar PT GNE tidak lagi bergerak ke banyak lini tanpa fokus yang jelas. Pemprov, kata dia, ingin perusahaan daerah tersebut tumbuh dengan identitas usaha yang kuat dan relevan dengan kebutuhan strategis daerah.
“PT GNE harus kembali ke fitrahnya, yaitu konstruksi. Dengan begitu, perusahaan ini punya satu core business yang jelas, mudah dikawal, dan lebih memungkinkan untuk tumbuh secara berkelanjutan. Pemprov NTB sedang menyiapkan ekosistem itu supaya kebangkitan PT GNE tidak bersifat parsial, tetapi ditopang oleh sinergi lintas sektor,” katanya.
Keputusan tersebut semata-mata Pemprov NTB tidak ingin PT GNE kembali tumbuh secara sporadis, apalagi tanpa fondasi yang kuat. Pemerintah, lanjut Izzudin ingin memastikan PT GNE dibangun di atas sistem yang saling menopang, mulai dari perencanaan, pengadaan, konektivitas kelembagaan, hingga peluang keterlibatan dalam rantai pembangunan konstruksi di daerah.
“Arah kembali ke konstruksi sesungguhnya memiliki dasar yang kuat. Dunia konstruksi merupakan sektor strategis yang berkaitan langsung dengan pembangunan infrastruktur, perumahan, fasilitas publik, dan pertumbuhan ekonomi riil. Sektor ini juga memiliki ruang bisnis yang jelas, karena diatur dalam kerangka pengadaan pemerintah dan tata kelola jasa konstruksi yang keta,” jelasnya.
Dalam konteks itu, PT GNE dinilai perlu meninggalkan pola usaha yang melebar tanpa fokus. Perusahaan daerah hanya bisa tumbuh sehat jika memiliki identitas bisnis yang tegas. Dan bagi PT GNE, identitas itu adalah konstruksi. Karena itulah, RUPS akhir April nanti dipandang bukan sekadar agenda pergantian direksi.
“Publik menunggu apakah PT GNE benar-benar akan dipulangkan ke rumah besarnya, yakni sektor konstruksi, atau justru kembali terseret ke arah yang tidak jelas,” ucapnya.
Calon direksi yang akan ditetapkan nanti tidak hanya menerima jabatan, tetapi juga amanah besar untuk memimpin transformasi perusahaan. Mereka dituntut menata tata kelola, memperkuat fokus usaha, menumbuhkan kepercayaan, serta memastikan PT GNE bergerak di atas mandat yang sesuai dengan fitrahnya sebagai Perseroda.
Dengan ekosistem konstruksi yang sedang disiapkan Pemprov NTB melalui Biro Ekbang Setda NTB, harapan terhadap masa depan PT GNE pun kembali terbuka. Jika skema ini berjalan konsisten, PT GNE berpeluang tumbuh lebih baik dengan satu lini usaha yang jelas, kuat, dan berkelanjutan.
“Akhir April ini, yang dipertaruhkan bukan hanya siapa yang duduk di kursi direksi. Yang benar-benar dipertaruhkan adalah masa depan PT GNE sendiri: apakah mampu bangkit dengan identitas baru yang lebih tegas, atau kembali kehilangan arah di tengah besarnya harapan publik,” pungkasnya. (era)

