BerandaNTBKOTA MATARAMPerkuat Pengelolaan Sampah Organik

Perkuat Pengelolaan Sampah Organik

 

PEMERINTAH Kecamatan Sekarbela terus menggencarkan pengolahan sampah organik melalui budidaya maggot sebagai upaya mengurangi penumpukan sampah di TPS Sandubaya, Kebon Talo, hingga Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Kebon Kongok.

Camat Sekarbela, Arief Satriawan, mengatakan inovasi tersebut dilakukan dengan memanfaatkan sisa makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi pakan ternak lele sekaligus pupuk organik.

Menurutnya, sistem pengolahan ini memanfaatkan siklus hidup maggot yang mampu mengurai sampah organik dengan cepat, sehingga dinilai efektif mengurangi volume sampah sekaligus memiliki nilai ekonomis.

“Kita upayakan inovasi ini dapat berjalan maksimal, dimulai dari skala kecil,” ujarnya, Jumat (15/5/2026).

Arief menjelaskan, pengelolaan sampah organik, khususnya limbah sayuran, menjadi maggot dinilai sangat efektif karena memiliki siklus produksi yang relatif cepat.

Meski sempat menghadapi kendala pada proses penetasan telur maggot, pihak kecamatan kini mulai menemukan metode yang tepat setelah mendapat pendampingan dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) dan Maggot Center.

“Kita dulu terlalu lama saat proses penetasan. Kita tunggu sampai seminggu, padahal seharusnya tiga hari sudah bisa menetas. Alhamdulillah sekarang sudah dibimbing teman-teman DLH,” jelasnya.

Ia menyebutkan, hasil pengolahan sampah tersebut tidak hanya mampu mengurangi beban tempat pembuangan akhir, tetapi juga menghasilkan pakan alami untuk ikan lele dan nila yang dikelola pihak kecamatan. Selain itu, kotoran maggot atau kasgot dimanfaatkan menjadi pupuk organik berkualitas tinggi.

Menurut Arief, hasil penelitian menunjukkan kandungan nitrogen (N) pada kasgot lebih tinggi dibandingkan kotoran ayam. Karena itu, kasgot difermentasi menggunakan EM4 untuk menghasilkan pupuk yang lebih optimal bagi tanaman.

“Hasilnya sangat bagus untuk tanaman, seperti cabai di depan kantor ini yang daunnya sangat subur,” katanya.

Saat ini, fasilitas budidaya maggot masih memanfaatkan lahan terbatas dengan menggunakan kotak sederhana guna menekan biaya pembangunan infrastruktur.

“Kita coba pakai kotak dulu. Kalau membuat kandang permanen biayanya cukup besar karena harus menggunakan rangka baja dan membutuhkan tempat yang luas,” ungkapnya.

Arief juga menekankan pentingnya pemilahan sampah sejak dari rumah tangga agar sampah organik tidak tercampur dengan plastik maupun kuah makanan yang dapat menghambat pertumbuhan maggot. (pan)

 

IKLAN

RELATED ARTICLES

IKLAN





VIDEO