Praya (Suara NTB) – Dinas Kesehatan (Dikes) Lombok Tengah (Loteng) akan melakukan skrining menyeluruh di sekolah asal korban dugaan pelecahan seksual oknum guru pondok pesantren (ponpes) di Lombok Tengah. Langkah itu dilakukan untuk mencari kemungkinan adanya korban lain dari kasus pelecahan seksual yang saat ini sudah ditangani Polres Loteng tersebut.
Hal itu diungkapkan Kepala Dikes Loteng dr. Mamang Bagiansyah, kepada awak media di Kantor DPRD Loteng, Senin (18/5/2026). “Semua akan kami skrining untuk mengetahui kemungkinan ada korban lain dari kasus ini,” sebutnya.
Ia mengaku sejauh ini baru ada empat siswa yang mengaku menjadi korban pelecahan seksual oknum guru ponpes tersebut. Dengan satu orang korban dinyatakan positif menderita Infeksi Menular Seksual (IMS) atau Penyakit Menular Seksual (PMS). Korban yang bersangkutan pun saat ini sudah ditangani tim medis.
“Korban yang sudah dinyatakan positif PMS saat ini sudah ditangani tim kesehatan kita. Terhadap kemungkinan ada korban lainnya itu yang sedang kami lacak dengan cara melakukan skrining menyeluruh,” ujarnya.
Pihaknya berharap para pihak bisa mendukung langkah tersebut dengan memberikan informasi jika pernah menjadi korban pelecehan oleh pelaku. Hal ini supaya bisa dilakukan upaya penanganan segera.
Jika memang ada yang sakit, bisa segera diobati. Kalaupun tidak, bisa dilakukan upaya-upaya preventif lainnya. “Tidak perlu khawatir, kalau ada yang merasa pernah jadi korban pelecahan bisa diinformasikan ke tim kesehatan yang ada. Supaya kita bisa melakukan langkah penanganan segera,” imbuh Mamang.
Seperti diberitakan sebelumnya, sorang guru Ponpes di wilayah Kecamatan Pujut berinisial MYA, sejak Kamis (14/5) telah diamankan di sel tahanan khusus Mapolres Loteng. Guru itu diduga nekat menyodomi empat orang santrinya. Terduga pelaku saat ini sudah ditetapkan sebagai tersangka dan terancam hukuman berat akibat aksi bejatnya tersebut.
Terungkapnya kasus tersebut bermula saat salah satu korban mendatangi Puskemas Sengkol lantaran mengakui mengalami ganggun kesehatan beberapa hari yang lalu. Dari hasil pemeriksaan, korban didiagnosa mengidap penyakit menular seksual. Mengetahui hasil pemeriksaan tersebut, korban kemudian mengungkapkanya kalau dirinya pernah disodomi oleh tersangka.
Pihak keluarga korban yang tidak terima, kemudian melaporkan oknum guru tersebut ke pimpinan Ponpes tempat tersangka mengajar. Setelah itu laporan dilanjutkan ke Polres Loteng. Mendapat laporan tersebut, polisi langsung bergerak mencari dan mengamankan tersangka. Sejumlah saksi juga diperiksa dan dimintai keterangan.
Dari sanalah terungkap kalau korban sodomi oknum guru tersebut tidak hanya satu orang saja. Namun ada tiga korban lainya. “Hasil pemeriksaan beberapa saksi-saksi terutangkap kalau terdapat tiga santri lainnya yang diduga menjadi korban pencabulan oleh tersangka,” sebut Kasat Reskrim Polres Loteng, AKP Punguan Hutahaean, S.Tr.K., S.I.K., akhir pekan kemarin.
Para korban sendiri merupakan siswa SMP yang tengah menimba ilmu di ponpes tersebut dan berasal dari sejumlah desa di wilayah Kecamatan Pujut. Aparat kepolisian juga masih terus mengembangkan kasus tersebut untuk mengungkap kemungkinan adanya korban lainnya. (kir)

