BerandaBIMATingkat Penanganan Kasus TBC 95 Persen

Tingkat Penanganan Kasus TBC 95 Persen

Bima (Suara NTB) – Kasus tuberkulosis (TBC) di Kota Bima masih tergolong tinggi dalam tiga tahun terakhir. Penanganan diperkuat melalui program kelurahan siaga TBC di wilayah dengan tingkat paparan tertinggi. Tingkat penanganan kasus telah mencapai 95 persen.

Data Dinas Kesehatan Kota Bima mencatat, pada 2023 ditemukan 405 kasus TBC dengan tingkat keberhasilan pengobatan mencapai 96,31 persen. Tahun 2024 jumlah kasus tercatat 357 kasus, termasuk 37 kasus TBC anak, dengan angka kesembuhan sekitar 98 persen atau 339 pasien sembuh. Sementara, pada 2025 ditargetkan ditemukan 528 kasus TBC dan hingga evaluasi Standar Pelayanan Minimal (SPM) telah ditemukan 422 kasus atau sekitar 80 persen dari target.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Bima, Ahmad mengatakan capaian penemuan kasus TBC di Kota Bima saat ini masih membutuhkan penguatan kolaborasi lintas sektor, agar penanganan dapat berjalan maksimal. Menurutnya, TBC merupakan penyakit menular yang memiliki risiko penyebaran cukup tinggi di masyarakat.

“Untuk temuan kasus sudah mencapai sekitar 80 persen dari target SPM tahun 2025, yakni 422 kasus dari target 528 kasus. Ini membutuhkan kerja sama dan kolaborasi semua unsur, baik lintas program maupun lintas sektoral,” ujarnya.

Ia menjelaskan, satu penderita TBC positif berpotensi menularkan penyakit kepada hingga 20 orang lain apabila tidak segera ditangani. Karena itu, penemuan kasus secara dini dan pengobatan tuntas menjadi bagian penting dalam upaya pengendalian TBC di daerah.

Menurut Ahmad, tingkat keberhasilan pengobatan penderita TBC di Kota Bima saat ini juga telah berada di atas 95 persen sesuai target nasional. Pemerintah menargetkan eliminasi TBC dapat tercapai pada 2030 dengan menekan penemuan kasus baru dan angka kematian akibat penyakit tersebut.

“Targetnya pada tahun 2030 sudah tidak ada lagi penemuan kasus baru dan kematian karena TB. Karena itu, TOSS TB harus terus digencarkan, temukan, obati sampai sembuh,” katanya.

Sekretaris Daerah Kota Bima, Drs. H. Muhammad Fakhrunraji, M.E., mengatakan pemerintah daerah mendukung penuh program penanggulangan TBC, karena tingkat paparan penyakit tersebut masih tinggi. Berdasarkan data kesehatan daerah, TBC bahkan masuk tiga besar penyakit berbahaya di Kota Bima.

“Pemerintah sangat mendukung program ini karena berdasarkan data kesehatan, tingkat paparan TBC di Kota Bima cukup tinggi, bahkan masuk dalam kategori tiga besar penyakit berbahaya di Kota Bima,” ujarnya.

Menurutnya, TBC merupakan penyakit menular yang berisiko terhadap lingkungan sekitar sehingga penanganannya membutuhkan keterlibatan lintas sektor. Faktor lingkungan seperti rumah layak huni, ketersediaan air bersih, dan sanitasi juga dinilai berpengaruh terhadap penyebaran penyakit.

Karena itu, pemerintah mendorong pembentukan Kelurahan Siaga TBC di wilayah dengan kasus tinggi. Program tersebut diharapkan memperkuat kolaborasi pemerintah, tenaga kesehatan, dan masyarakat dalam mencegah penyebaran TBC.

“Oleh karena itu, mari kita persiapkan kelurahan ini menjadi Kelurahan Siaga TBC. Kita pilih wilayah dengan tingkat paparan tinggi agar melalui gerakan ini dapat terbangun kolaborasi dan kesepahaman bahwa TBC harus kita perangi bersama dengan menjaga lingkungan tetap bersih,” katanya.

Fakhrunraji juga meminta camat dan lurah serius menangani persoalan kesehatan masyarakat, termasuk TBC dan campak. Pemerintah daerah lanjutnya, telah menyiapkan dukungan kebijakan, anggaran, dan kerja sama lintas sektor untuk menekan angka kasus.

“Pemerintah Kota Bima sangat mendukung penuh upaya penurunan angka TBC ini. Komitmen tersebut tidak hanya dalam bentuk kebijakan, tetapi juga dukungan anggaran dan kerja sama lintas sektor,” tegasnya.

Program Kelurahan Siaga TBC difokuskan pada deteksi dini kasus, penelusuran kontak erat pasien, edukasi masyarakat, pendampingan minum obat, hingga memastikan layanan pengobatan gratis di puskesmas berjalan optimal. (hir)

IKLAN

spot_img
RELATED ARTICLES

IKLAN





VIDEO