Giri Menang (Suara NTB) – Keluhan masyarakat soal pelayanan RSUD Tripat Gerung Lombok Barat (Lobar), terutama pada beberapa bagian diduga masih belum ada perbaikan. Dampaknya, warga masih mengeluhkan pelayanan tersebut. Seperti pada loket pendaftaran sidik jari pasien dan obat-obatan di farmasi masih terjadi antrean yang menumpuk. Pengunjung juga mengeluhkan minimnya kursi roda yang disiapkan loket pendaftaran.
Pantauan media pada Sabtu (30/5/2026), antrean pasien di pendaftar poliklinik memenuhi tempat antre pendaftaran. Keluarga pasien yang ikut antre pun tak kebagian tempat duduk hingga banyak yang berdiri. Sejumlah petugas terlihat kewalahan melayani, karena jumlah petugas terbatas tak sebanding dengan pasien yang membeludak.
Kondisi ini mengakibatkan kerumunan pendaftar pun tak terhindarkan. Pasien yang antre lama juga mengeluhkan minimnya kursi roda. Terutama bagi pasien lansia atau lanjut usia dan pasien sejumlah poli rehabilitasi medik dan lainnya yang notabene membutuhkan alat bantu kursi roda tersebut. Bahkan, keluarga pasien harus keliling mencari sendiri kursi roda. Itu pun mereka harus berebut untuk menggunakan kursi roda.
Pengunjung juga mengeluhkan antrean pengambilan obat di Depo Farmasi. Pasian harus antre berjam-jam.
Kondisi ini menjadi sorotan dari Komisi IV DPRD Lobar. Wakil Ketua Komisi IV Dr. Syamsuariansyah menyampaikan, dari awal pihaknya meminta pada RSUD Tripat untuk menerapkan sistem nomor antrean digital, menambah jumlah staf di jam sibuk, dan membuka reservasi online.
“Reservasi online juga sangat membantu pasien untuk tidak selalu ke RSUD di waktu-waktu yang sibuk. Tinggal menyesuaikan dengan jadwal dokter yang ingin dikunjungi pasien. Maka dengan ini akan mempersingkat waktu tunggu dan mencegah pasien pindah ke rumah satki lain,” kata Syamsuriansyah.
DPRD Lobar Sarankan Beberapa Hal
Ia pun menyarankan beberapa hal yang bisa menjadi referensi untuk mengurai antrean panjang. Dengan penerapan sistem antrean digital, menggunakan aplikasi atau mesin tiket otomatis pengunjung tidak perlu lagi berdiri dan bisa menunggu dengan lebih nyaman.
Rumah sakit juga perlu melakukan optimasi proses transaksi menggunakan aplikasi kasir atau sistem point-of-sale (POS) modern yang cepat dan mendukung pembayaran digital tanpa tunai (cashless).
Selanjutnya, rumah sakit harus menerapkan pelayanan terpadu atau pemisahan jalur. Antrean pasien dipisahkan berdasarkan jenis kebutuhan. Contoh jalur prioritas, pengembalian barang, atau transaksi cepat.
“Diharapkan dengan langkah ini bisa memberi kobtribusi bagi rumah sakit berbenah,”imbuh politisi Perindo ini. Terkait kursi roda pasien yang kurang, harusnya pihak manajemen menambah layanan yang komprehensif dan petugas layanan lansia.
Anggota Komisi IV DPRD Lobar, M. Munip mengatakan, harusnya antrean di RSUD Tripat bisa diselesaikan dengan situasional. Artinya petugas bidang pelayanan harus jeli melihat hal tersebut sehingga bsia mencarikan solusi terbaik.
“Sistem antrean harus dibuat sistematis dan pihak RS harus menempatkan petugas pada titik-titik rawan untuk mengarahkan pasien. Kadang masalah ini muncul karena petugas tidak ada yang mengarahkan dalam situasi seperti ini,” tegas politisi PPP ini.
Rasio petugas pengarah loket dengan jumlah pasien terkadang tidak terbaca oleh petugas. Seperti pelayanan setelah hari libur hari besar, biasanya terjadi peningkatan kunjungan pasien sangat tinggi. “Maka hal-hal tersebut harus sudah bisa diantisipasi apalagi dengan tipe RS kita saat ini,” imbuhnya.
RSUD Tripat akan Intensifkan Sosialisasi Terkait Antrean
Sementara itu, Direktur RSUD Tripat, dr H. Suriyadi., Sp.An., mengatakan, terkait antrean di pendaftaran sebenarnya tidak perlu berbondong-bondong datang pagi-pagi untuk menghindari penumpukan pasien. Pasalnya, pasien sebenarnya di surat kontrolnya sudah ada waktu estimasi pelayanan. “Sehingga pasien bisa datang sesuai estimasi waktu yang tertera. Sehingga distribusi pasien juga merata,” kata dia.
Pihaknya akan menyosialisasikan kembali lebih intens ke pasien agar datang sesuai estimasi yang telah ditentukan. Selain informasi lewat surat kontrol, pasien bisa memantau antrean secara live di rumah melalui ponsel, sehingga bisa memperkirakan waktu untuk datang ke RSUD Tripat untuk mencegah penumpukan.
Pihaknya mengembangkan sebuah sistem bagi pasien memonitor dari rumah nomor antrean secara live. Diakui, penumpukan ini biasanya akibat sistem internet yang lambat atau loading lama. Dari biasanya paling lama lima detik satu pasien, tetapi internet loading hingga 10-15 detik sehingga memakan waktu lebih lama dari normalnya. Terkait kursi roda bagi pasien di loket pendaftaran, diakuinya masih kurang. Pihaknya pun sedang berupaya menambah kursi roda. Ia mengatakan, pasien atau keluarga pasien tidak perlu mencari kursi roda sebab ada petugas khusus yang akan keliling mencarikan. (her)


