Mataram (Suara NTB) – Sebanyak 20 Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di NTB mengalami kerusakan bangunan. Dari 20 SMK itu, ada sekitar 17 sekolah dengan kondisi rusak sedang, sementara tiga sisanya rusak berat.
Kepala Bidang (Kabid) Pembinaan SMK dan Pendidikan Khusus (SMK-PK), Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) NTB, Hasbi mengatakan, tidak sedikit SMK yang dalam kondisi memprihatinkan.
Berdasarkan hasil tinjauannya, beberapa bangunan SMK tersebut bahkan tidak layak pakai. Dimana di sejumlah bagian sekolah, seperti atap dan plafon yang roboh hingga keramik yang copot.
“17 sekolah itu saya pastikan rusak sedang, hampir semua rusak sedang. Tapi ada beberapa sekolah yang rusak. Rusaknya sangat berat,” ujarnya kepada Suara NTB, Rabu (10/6).
Adapun sekolah yang mengalami kerusakan berat di antaranya, SMKN 1 Soromandi di Kabupaten Bima, SMKN 2 Manggalewa, dan SMKN 1 Pujut. Kondisi kerusakan ketiga sekolah tersebut juga kurang lebih sama.
Hasbi telah meminta Kepala Sekolah yang mengalami kerusakan baik sedang hingga berat tersebut untuk mengosongkan bangunan yang dinilai tak layak pakai. “Kalau rusak sangat berat, diusahakan itu sekolah, ruangan tidak digunakan. Dan kita sudah sampaikan di beberapa kali pertemuan dengan teman-teman kepala sekolah untuk mewanti-wanti sekolah yang sangat rusak,” tegasnya.
Hasbi menegaskan, sekolah-sekolah yang mengalami kerusakan tersebut memerlukan bantuan perbaikan. Pihaknya pun telah berupaya agar SMK baik negeri maupun swasta yang bangunannya rusak mendapat intervensi melalui program revitalisasi.
“Sangat perlu sekali (diperbaiki). Kalau yang rusak berat dan sedang, itu kita arahkan ke revitalisasi. Kalau yang rusaknya kecil, itu kita arahkan ke PUPR. Karena (dana yang dibutuhkan) 100 juta, yang 50 juta kita arahkan ke PUPR,” jelasnya.
Ia menambahkan, upaya revitalisasi ini juga sejalan dengan harapan Gubernur NTB, lalu Muhamad Iqbal untuk memastikan sekolah menjadi tempat yang aman dan nyaman bagi siswa untuk belajar. “Dan ini memang Pak Gubernur concern itu untuk perbaikan ringan, jangan sampai anak-anak terganggu belajarnya,” tuturnya.
Hasbi menargetkan agar perbaikan terhadap sekolah yang rusak dapat segera terelalisasi dalam waktu dekat. “Kita pastikan yang rusak berat itu kalau bisa dapat Takola tahun 2027 paling jauh. Kalau ada tambahan 2026, kita prioritaskan mereka dapat,” pungkasnya. (sib)


