BerandaNTBLOMBOK TIMURMasih Banyak Pengangguran, Dikpora NTB Dorong Gencarkan Kembali Program "Double Track"

Masih Banyak Pengangguran, Dikpora NTB Dorong Gencarkan Kembali Program “Double Track”

Selong (Suara NTB) – Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Dikpora) Cabang Wilayah II Lombok Tengah dan Lombok Timur mendorong sekolah menggencarkan program double track bagi sekolah menengah atas (SMA) sebagai upaya membekali keterampilan siswa. Langkah ini diambil mengingat masih tingginya angka siswa yang tidak melanjutkan studi ke perguruan tinggi karena berbagai faktor, terutama keterbatasan ekonomi.

Kepala Cabang Wilayah II Loteng–Lotim, Supriadi, MPd., kepada Suara NTB, menyampaikan bahwa angka melanjutkan studi di dua kabupaten terbesar di NTB tersebut masih perlu ditingkatkan dengan ikhtiar lebih keras. “Ada yang naik dua kali lipat, dari 50 persen menjadi 65 persen. Harapan kami tahun ini bisa meningkat hingga 70 persen. Kalau literasi dan numerasi bagus, pasti minat anak untuk melanjutkan studi akan tinggi,” ujarnya.

Namun, data menunjukkan rata-rata siswa SMK justru lebih berharap langsung bekerja. Hanya sekitar 10 persen yang memilih melanjutkan kuliah. “Ke depan, kami berharap ada lulusan yang menjadi guru produktif, terutama yang tersebar di Bali dan Jawa karena di sana masih kekurangan guru produktif,” tambahnya.

Sejak tahun 2025, program double track telah diingatkan kepada seluruh kepala sekolah SMA. Konsepnya, siswa yang tidak berminat melanjutkan studi atau tidak langsung bekerja diberikan keterampilan praktis bekerja sama dengan SMK dan dunia industri. “Misalnya diajarkan otomotif. Petakan minat anak SMA karena selama ini SMA tidak membekali skill. Setelah lulus, mereka tidak menganggur,” tegasnya.

Sejumlah sekolah sudah mulai menerapkan meski belum maksimal. SMA Labuhan Haji, misalnya, telah memberikan keterampilan membatik. “Namun tidak hanya batik, bisa juga kecantikan dengan mendatangkan pakar. Masukkan dalam ekstrakurikuler atau pendidikan kewirausahaan. Kami serahkan ke sekolah bagaimana yang terbaik, intinya anak harus diberi kemampuan lebih,” jelasnya.

Menurutnya, banyak keluarga dengan kemampuan terbatas sehingga siswa dituntut langsung bekerja dan tidak melanjutkan studi. Padahal beasiswa sangat banyak yang bisa direbut. “Calon siswa harus percaya diri, bisa menulis, punya kemampuan bahasa, literasi, numerasi, dan beradaptasi. Itu modal masuk ke mana saja,” pesannya.

Kepala cabang juga menyoroti kebiasaan guru yang hanya membaca notifikasi WhatsApp tentang gaji dan sertifikasi, sementara informasi lain jarang diakses. “Pilihan buku juga harus disesuaikan dengan minat siswa,” tandasnya. (rus)

IKLAN

RELATED ARTICLES

IKLAN






VIDEO