Sumbawa Besar (Suara NTB) – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumbawa tengah berikhitiar untuk terus menambah luas hutan mangrove. Hal itu dilakukan sebagai upaya penghasil karbon terbesar di NTB,sekaligus mengurangi emisi gas karbondioksida.
“Luas lahan potensial yang kita miliki saat ini mencapai 5. 356 hektare yang tersebar di sejumlah Kecamatan yang memiliki wilayah pesisir sementara yang sudah dimanfaatkan baru di angka 30-40 persen saja,” kata Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup (DLH), Hj. Rahmawati, kepada Suara NTB, Kamis (25/6).
Dia melanjutkan, keberadaan hutan mangrove nantinya bisa ‘dijual’ melalui trade carbon dunia sebagai upaya mengurangi produksi karbondioksida. Apalagi potensi lahan yang dimiliki kata dia, sangat besar sehingga sangat memungkinkan untuk bisa menjadi kabupaten penghasil karbon.
“Sekarang yang dilirik oleh dunia adalah negara penghasil karbon, makanya kami berikhtiar untuk menjadikan Sumbawa sebagai daerah penghasil karbon,” ujarnya.
Rahma menyebutkan, luas tanam mangrove yang sudah terealisasi masih berkisar di angka 30-40 persen dari lahan potensial yang dimiliki. Pemerintah pun memastikan akan tetap memberikan atensi khusus terkait hutan mangrove bahkan setiap tahunnya selalu ada program untuk keberlanjutan mangrove.
Menurutnya,persoalan lingkungan tentu menjadi atensi saat ini terutama penanaman mangrove, apalagi Sumbawa memiliki lahan yang sangat luas. Artinya, bentangan dan pesisir pantainya sangat panjang sehingga salah satu yang harus dijaga jangan sampai terjadi abrasi pantai.

