Giri Menang (Suara NTB) – Berdasarkan data Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), terdapat 7.349 Anak Tidak Sekolah atau ATS di Lombok Barat (Lobar). Temuan data APS ini pun menjadi atensi Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Lobar. Pihak Dikbud menindaklanjuti dengan turun verifikasi dan validasi data ATS tersebut.
“Itu data Kementerian. Tugas kami sekarang memverifikasi lagi data itu,” kata Kepala Dikbud Lobar, Lalu Najamudin, akhir pekan kemarin. Data ATS ini tersebar ada di 10 kecamatan di Lombok Barat, tapi ia mengaku tidak menghafal secara terperinci.
Namun, dalam upaya penanganan ATS ini, diklaimnya, Lombok Barat termasuk paling cepat dari 10 kabupaten-kota di NTB. “Kami paling cepat progresnya dalam upaya penanganan ATS ini,” klaimnya.
Ribuan anak tidak sekolah ini merupakan akumulasi dari data tahun-tahun sebelumnya. Langkah penanganan pun sedang dilakukan pihaknya, dengan membentuk kelompok kerja (Pokja) di masing-masing sekolah untuk memverifikasi dan validasi data tersebut.
“Kami verifikasi, betul tidak data itu, kemudian semua by name by address-nya,” kata dia.
Pihaknya perlu melihat apa faktor atau penyebab kenapa terjadi ATS ini, apakah ekonomi atau kurang mampu, pernikahan dini, faktor broken home, orang tua ke luar negeri menjadi TKI kemudian anaknya dititip di nenek atau keluarganya. “Banyak faktor juga,” imbuhnya.
Setelah mengidentifikasi penyebabnya, pihaknya bisa menyiapkan penanganan. Kalau tidak mampu ditangani melalui beasiswa, kalau miskin ekstrem dikoordinasikan dengan Dinas Sosial untuk dimasukkan ke Sekolah Rakyat.
“Yang pasti jangan sampai mereka tidak sekolah,” pungkasnya. Pihaknya pun akan memaksimalkan penanganan tahun ini hingga akhir tahun. Jajarannya sedang bergerak, salah satunya memaksimalkan program satu guru satu ATS. Pihaknya memaksimalkan sekitar enam ribuan guru yang ada untuk mengeroyok ATS ini, para guru nanti membimbing anak-anak ini sehingga secepatnya bisa tertangani. (her)

