BerandaNTBDOMPUHarga Melonjak, Produksi Kopi Tambora Menurun

Harga Melonjak, Produksi Kopi Tambora Menurun

Dompu (Suara NTB) – Harga Kopi Tambora pada musim panen tahun 2026, menunjukkan tren yang menggembirakan bagi para petani. Sejak panen dimulai pada Juni lalu, harga biji kopi di tingkat petani terus mengalami kenaikan dan kini mencapai Rp53 ribu per kilogram.

Masa panen Kopi Tambora diperkirakan berlangsung hingga November atau Desember mendatang. Selama periode tersebut, harga diprediksi masih berpeluang meningkat seiring tingginya permintaan pasar.

Kabupaten Dompu memiliki areal perkebunan kopi Tambora seluas sekitar 533,91 hektare yang tersebar di kawasan lereng Gunung Tambora, terutama di Kecamatan Pekat. Selama ini, Kopi Tambora lebih dikenal sebagai kopi jenis robusta. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, sebagian petani mulai mengembangkan kopi arabika sebagai upaya diversifikasi komoditas dan memenuhi permintaan pasar.

Pasar Kopi Tambora tidak hanya memenuhi kebutuhan lokal di Kabupaten Dompu. Biji kopi asal lereng Tambora juga dipasarkan ke berbagai daerah di Indonesia hingga diekspor ke sejumlah negara di Eropa.

Meski demikian, hingga kini belum terdapat pengepul atau offtaker berskala besar yang secara khusus menampung produksi kopi Tambora dalam jumlah besar. Kondisi tersebut membuat sebagian besar petani masih menjual hasil panennya kepada pedagang pengumpul secara bertahap sebelum diteruskan ke pasar yang lebih luas.

Petani kopi Tambora asal Desa Kadindi, Kecamatan Pekat, Bambang, mengungkapkan bahwa harga kopi pada awal musim panen tahun ini jauh lebih baik dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

“Kalau biasanya awal musim panen harga kopi sekitar Rp40 ribu per kilogram, pada Juni 2026 lalu sudah mencapai Rp50 ribu per kilogram. Sekarang sudah naik lagi menjadi Rp53 ribu per kilogram,” ujarnya kepada Suara NTB, Senin (6/7) malam.

Meski harga memberikan harapan bagi petani, kondisi tersebut belum sepenuhnya diikuti peningkatan hasil panen. Produksi Kopi Tambora tahun ini, justru mengalami penurunan sekitar 20 persen dibandingkan musim panen tahun lalu.

Menurut Bambang, penurunan produksi dipengaruhi oleh curah hujan yang berlangsung cukup lama pada musim sebelumnya, sehingga berdampak terhadap pembentukan dan kualitas buah kopi.

“Produksi turun sekitar 20 persen. Ini biasa terjadi akibat hujan berkepanjangan yang memengaruhi buah kopi,” jelasnya.

Kendati hasil panen berkurang, tingginya harga jual dinilai mampu menjaga pendapatan petani. Para petani berharap kondisi cuaca pada musim tanam berikutnya lebih bersahabat sehingga produktivitas kebun kembali meningkat.

Di sisi lain, kehadiran investor atau pengepul resmi dengan kapasitas penampungan yang besar dinilai akan memperkuat rantai pemasaran, memberikan kepastian pasar, serta meningkatkan nilai tambah bagi kopi Tambora yang kini semakin dikenal di pasar nasional maupun internasional. (ula)

IKLAN

RELATED ARTICLES

IKLAN





VIDEO