Mataram (Suara NTB) – Fakultas Kedokteran Universitas Islam Al-Azhar (Unizar) resmi menutup rangkaian Boarding School Angkatan 2025 melalui Closing Ceremony Boarding School yang digelar di Gedung Teater Ahmad Firdaus Sukmono Unizar, Kamis (23/7/2026).
Kegiatan tersebut dihadiri seluruh mahasiswa Fakultas Kedokteran Angkatan 2025 beserta orang tua mereka. Acara juga dihadiri Bendahara Yayasan Pesantren Luhur Al-Azhar, Ketua Senat Akademik Unizar, Rektor Unizar, Kepala Biro Kemahasiswaan, Wakil Dekan II Fakultas Kedokteran, Ketua Program Studi Pendidikan Dokter, jajaran pimpinan Fakultas Kedokteran, serta tamu undangan lainnya.
Tidak hanya menjadi seremoni penutupan, kegiatan tersebut juga dirangkaikan dengan seminar pengembangan diri bertajuk “Beyond Surviving, Toward Thriving” yang disampaikan oleh Dr. Laily Abida, M.Psi., Psikolog, yang merupakan Ketua Pengelola Sekolah Tinggi Agama Islam Ma’had Aly Al-Hikam Malang sekaligus putri kelima Almarhum KH. Hasyim Muzadi. Seminar ini sebagai bekal bagi mahasiswa dalam menghadapi tantangan pendidikan kedokteran maupun kehidupan profesional.
Boarding School Jadi Fondasi Pembentukan Karakter Mahasiswa
Ketua Panitia sekaligus Penanggung Jawab Boarding School Fakultas Kedokteran Unizar, Irwan Syuhada, S.Psi., M.Si, menjelaskan bahwa Boarding School bukan sekadar tempat tinggal mahasiswa, tetapi menjadi bagian dari sistem pendidikan karakter yang dirancang Yayasan Pesantren Luhur Al-Azhar.
Menurutnya, program tersebut merupakan bentuk komitmen yayasan dalam membangun kualitas lulusan melalui pembinaan yang menyeluruh sejak mahasiswa memasuki dunia perkuliahan.
“Peran Boarding School sangat penting sebagai media adaptasi mahasiswa, khususnya dalam masa transisi dari jenjang SMA menuju perguruan tinggi. Perubahan lingkungan belajar tentu memerlukan proses penyesuaian yang baik,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa konsep Boarding School saat ini telah berkembang menjadi ruang pembentukan karakter, kedisiplinan, kepemimpinan, budaya akademik, sekaligus pendampingan akademik dan pengembangan soft skills.
“Kami tidak ingin mahasiswa hanya menjadikan Boarding School sebagai tempat beristirahat layaknya kos-kosan. Kami ingin tempat ini menjadi ruang pembinaan yang mampu membentuk karakter, kedisiplinan, kepemimpinan, serta budaya akademik yang positif,” katanya.
Irwan menambahkan bahwa profesionalisme seorang dokter tidak lahir secara instan, tetapi dibangun melalui pembiasaan, pendampingan, dan pembinaan sejak awal masa perkuliahan.
Ia juga mengapresiasi kreativitas mahasiswa karena seluruh rangkaian Closing Ceremony merupakan hasil karya Angkatan 2025.
“Apa yang Bapak dan Ibu saksikan hari ini merupakan karya mahasiswa sendiri. Para dosen hanya berperan sebagai pendamping dan fasilitator sehingga mahasiswa memperoleh pengalaman nyata dalam mengelola sebuah kegiatan secara mandiri.”
Filosofi IRIS 25: Keberagaman Menjadi Kekuatan
Dalam sambutannya, Wakil Dekan II Fakultas Kedokteran Unizar, drg. Abdillah Adipatria Budi Azhar, M.Bmd., mengungkapkan makna di balik nama angkatan IRIS 25.
Ia menjelaskan bahwa nama tersebut memiliki filosofi yang erat dengan dunia kedokteran sekaligus mencerminkan semangat keberagaman.

Menurutnya, iris merupakan bagian mata yang memberikan warna pada mata manusia. Keberagaman warna iris diibaratkan seperti pelangi yang indah karena terdiri dari berbagai warna yang saling melengkapi.
“Saya berharap nama IRIS bukan sekadar menjadi nama angkatan, tetapi juga memiliki filosofi yang kuat. Dalam anatomi, iris adalah bagian mata yang memberikan warna pada mata manusia. Warna iris sangat beragam sebagaimana pelangi yang melambangkan keindahan dalam keberagaman.”
Ia menambahkan bahwa IRIS diharapkan menjadi identitas mahasiswa Fakultas Kedokteran Unizar sebagai calon dokter yang memiliki wawasan Kesehatan Pariwisata sekaligus menjunjung tinggi nilai-nilai Islam Rahmatan lil ‘Alamin.
Menurutnya, Fakultas Kedokteran Unizar membuka ruang bagi seluruh mahasiswa dari berbagai latar belakang suku, budaya, maupun agama selama memenuhi persyaratan akademik yang berlaku.
“Nilai inilah yang ingin terus kami tanamkan agar mahasiswa menjadi dokter yang profesional, memiliki empati, berintegritas, serta mampu memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujarnya.
Rektor: Boarding School Menjadi Bekal Kehidupan Mahasiswa
Rektor Unizar, Dr. Ir. Muh. Ansyar, M.P., menilai Boarding School telah menjadi pengalaman berharga bagi mahasiswa selama satu tahun menjalani pendidikan.
Ia mengatakan, melalui Boarding School mahasiswa belajar beradaptasi dengan lingkungan baru, sistem pendidikan tinggi, serta kehidupan bersama teman-teman dari berbagai daerah di Indonesia.
“Di tempat inilah adik-adik dipertemukan dengan teman-teman yang sebelumnya tidak saling mengenal, berasal dari berbagai daerah, latar belakang, budaya, bahkan keyakinan yang berbeda, kemudian dipersatukan dalam satu keluarga besar.”
Menurutnya, proses tersebut menjadi bekal penting bagi mahasiswa karena kehidupan di perguruan tinggi berbeda dengan saat masih duduk di bangku SMA.
Ia juga mengingatkan bahwa seluruh pengalaman selama Boarding School, termasuk berbagai tantangan dan dinamika kehidupan bersama, akan menjadi kenangan yang berharga ketika mahasiswa telah menyelesaikan pendidikan.
Seminar “Beyond Surviving, Toward Thriving”
Sebagai bagian dari Closing Ceremony, Fakultas Kedokteran Unizar menghadirkan seminar “Beyond Surviving, Toward Thriving” yang dibawakan oleh Dr. Laily Abida, M.Psi., Psikolog.
Dalam paparannya, Dr. Laily yang merupakan pengelola Sekolah Tinggi Agama Islam Ma’had Aly Al-Hikam Malang mengajak mahasiswa untuk tidak hanya bertahan menghadapi beratnya pendidikan kedokteran, tetapi mampu berkembang menjadi pribadi yang tangguh, adaptif, dan memiliki tujuan hidup yang jelas.

Ia menjelaskan bahwa perjalanan mahasiswa kedokteran memiliki tantangan berbeda pada setiap fase, mulai dari adaptasi di masa praklinik, peningkatan beban akademik, persiapan keterampilan klinik, hingga masa koas. Karena itu, mahasiswa perlu membangun resiliensi, manajemen stres, dukungan sosial, serta kemampuan mengatur prioritas agar mampu berkembang secara optimal.
Materi seminar juga menekankan pentingnya beralih dari pola pikir surviving menuju thriving, yaitu tidak hanya mengejar nilai, tetapi juga memahami proses belajar, berkolaborasi, menjaga kesehatan fisik dan mental, serta terus mengembangkan kemampuan diri.
Mahasiswa Rasakan Manfaat Nyata Boarding School
Mewakili mahasiswa Angkatan IRIS 2025, Pande Made Bagus Dwi Suyasa menyampaikan rasa syukur atas pengalaman selama hampir satu tahun mengikuti Boarding School.
Ia mengaku program tersebut memberikan banyak manfaat dalam membentuk karakter, kedisiplinan, komunikasi, dan toleransi sebagai bekal menjadi dokter profesional.
“Kami dilatih menjadi pribadi yang lebih disiplin, mulai dari mengatur waktu, berpakaian, menjaga kebersihan kamar, menaati prosedur perizinan hingga disiplin presensi malam,” ungkapnya.
Menurutnya, Boarding School juga menjadi tempat belajar hidup dalam keberagaman karena mahasiswa berasal dari berbagai daerah seperti Lombok, Bali, Sumbawa, Bima, Dompu, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara Timur, dan daerah lainnya.
Ia menuturkan bahwa nilai toleransi benar-benar dirasakan dalam kehidupan sehari-hari. Mahasiswa saling mengingatkan untuk menjalankan ibadah sesuai agama masing-masing, sehingga tercipta suasana saling menghormati dan saling mendukung.
Pada kesempatan tersebut, Pande Made juga menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh dosen pembimbing lapangan (DPL) Boarding School apabila selama satu tahun terdapat kesalahan yang dilakukan mahasiswa.
Ia turut menyampaikan apresiasi kepada seluruh dosen atas kesabaran, perhatian, dan ketulusan dalam membimbing mahasiswa selama menjalani Boarding School.
“Kami juga bangga kepada seluruh teman-teman Angkatan 2025. Perjalanan ini tidak selalu mudah, tetapi dengan kebersamaan kami mampu melewati setiap tantangan dan tumbuh menjadi keluarga yang saling menguatkan,” tutupnya. (ron/*)

