Mataram (Suara NTB) – Wali Kota Mataram Dr. H. Mohan Roliskana mengibaratkan perjalanan pembangunan Kota Mataram selama 33 tahun seperti sebuah perlombaan estafet. Menurutnya, pembangunan kota tidak dapat diselesaikan oleh satu pemimpin, satu periode pemerintahan, maupun satu generasi.
Hal itu disampaikan Mohan dalam momentum rapat paripurna dalam rangka peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-33 Kota Mataram di DPRD Kota Mataram, Sabtu (29/8). Rapat paripurna dipimpin langsung Ketua DPRD Kota Mataram Abdul Malik, S.Sos., didampingi Wakil Ketua Hj. Istiningsih, S.Ag, dan Hj. Baiq Mirdiati.

Wali kota mengatakan, perjalanan selama lebih dari tiga dekade merupakan hasil kerja banyak pihak yang silih berganti memegang tanggung jawab untuk membangun dan menjaga kota.
“Tiga puluh tiga tahun adalah perjalanan yang panjang. Dalam perjalanan sepanjang itu, tentu ada banyak tangan yang pernah memegang tanggung jawab. Ada yang memulai, ada yang meneruskan, ada yang memperbaiki, dan ada yang menjaga agar apa yang sudah dibangun tidak kembali ke titik awal,” ujar Mohan.
Menurutnya, dalam pembangunan sebuah kota, setiap generasi tidak harus menyelesaikan seluruh pekerjaan. Namun, setiap generasi memiliki tanggung jawab untuk memastikan pembangunan tetap berjalan dan dapat dilanjutkan oleh generasi berikutnya.
Karena itu, kata Mohan, keberhasilan pembangunan tidak cukup hanya diukur dari apa yang telah dibangun pemerintah saat ini. Hal yang tidak kalah penting adalah sejauh mana pemerintah mampu menyiapkan fondasi yang dapat diteruskan oleh generasi mendatang.
“Kita tidak cukup hanya bertanya, apa yang sudah kita bangun? Tetapi kita juga perlu bertanya, apa yang sudah kita siapkan untuk diteruskan?” katanya.
Mohan menyadari Kota Mataram memiliki keterbatasan dari sisi wilayah maupun sumber daya. Namun, keterbatasan tersebut tidak boleh menjadi alasan untuk berhenti berbuat bagi masyarakat.
Ia menyebut sejumlah capaian pembangunan Kota Mataram sepanjang 2025. Perekonomian daerah tercatat tumbuh sebesar 5,43 persen dengan laju inflasi 3,21 persen. Sementara prevalensi stunting berhasil ditekan menjadi 5,53 persen, angka kemiskinan 7,15 persen, dan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) mencapai 82,37 atau berada dalam kategori sangat tinggi.
Selain indikator pembangunan tersebut, Kota Mataram juga mendapatkan sejumlah pengakuan. Di antaranya ditetapkan KPK RI sebagai Percontohan Kota Antikorupsi Tahun 2025 dengan skor 91,85 kategori istimewa.
Mataram juga meraih predikat Kota Sangat Inovatif dalam IGA Award 2025, masuk dalam 10 kota paling maju di Indonesia berdasarkan Indeks Daya Saing Daerah 2025 dengan nilai 4,26, serta kembali memperoleh opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) atas LKPD Tahun Anggaran 2025. Predikat tersebut menjadi WTP ke-12 secara berturut-turut.
Namun, Mohan menegaskan capaian tersebut tidak boleh hanya dipandang sebagai angka dan penghargaan. Di balik pertumbuhan ekonomi terdapat pelaku usaha yang terus berjuang, sementara di balik penurunan stunting terdapat anak-anak yang harus dipastikan tumbuh sehat.
“Di balik angka pembangunan manusia, ada anak-anak yang sedang belajar, pemuda yang sedang mencari ruang untuk berkembang, dan keluarga yang sedang membangun masa depan,” ujarnya.
Mohan juga menekankan bahwa pembangunan Mataram bukan semata-mata tanggung jawab pemerintah. Menurutnya, keberhasilan pembangunan merupakan hasil kontribusi banyak elemen, mulai dari para pendahulu, tokoh agama dan masyarakat, DPRD, ASN, guru, tenaga kesehatan, pelaku UMKM, komunitas, generasi muda, hingga seluruh masyarakat.
“Mataram tidak tumbuh karena satu tangan. Mataram tumbuh karena banyak tangan yang saling meneruskan,” tegasnya.
Ia pun menyampaikan penghargaan dan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam perjalanan pembangunan Kota Mataram, termasuk Forkopimda, dunia usaha, organisasi kemasyarakatan, komunitas, insan pers, dan masyarakat.
Menurut Mohan, tema HUT ke-33 Kota Mataram, “Merawat Kota, Menumbuhkan Harapan,” memiliki makna penting. Merawat kota, kata dia, bukan berarti menjadikan seluruh persoalan sempurna, melainkan menjaga hal-hal yang sudah baik, memperbaiki kekurangan, serta memastikan tidak ada masyarakat yang tertinggal dalam pembangunan.
Ia berharap semangat kebersamaan terus dijaga agar tongkat estafet pembangunan Kota Mataram dapat diteruskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
“Dalam estafet pembangunan, mungkin kita tidak semua akan mencapai garis akhir yang sama. Tetapi kita memiliki tanggung jawab yang sama: memastikan tongkat itu terus bergerak, dari generasi ke generasi, dari satu tangan ke tangan berikutnya, dan dari hari ini menuju masa depan yang lebih baik,” pungkas Mohan. (fit/*)


