Bima (Suara NTB) – Dinas Pariwisata Kabupaten Bima menyiapkan rangkaian agenda wisata dan budaya untuk memeriahkan Hari Jadi Bima (HJB) ke-386. Salah satu agenda utama adalah Festival Kakara yang digelar di kawasan pesisir Pantai Lariti, dengan konsep wisata bahari terpadu, tradisi pesisir, serta pertunjukan seni. Program ini diarahkan untuk memperkuat daya tarik destinasi sekaligus mendorong pergerakan ekonomi masyarakat melalui keterlibatan pelaku UMKM dan komunitas lokal.
Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Bima, Muhammad Akbar, mengatakan bahwa Festival Kakara dijadwalkan berlangsung akhir Juni di Pantai Lariti. Kegiatan ini memadukan wisata pelayaran, atraksi budaya, dan interaksi masyarakat dengan wisatawan di kawasan pesisir.
“Pada pagi hari kita akan mengadakan pelayanan wisata. Perahu dan fasilitas milik masyarakat dihias, kemudian dilakukan pelayaran wisata dari Dermaga Sape, Nanga Nur, Pantai Sentigi, Bajo Pulo, hingga finis di Lariti,” ujarnya pada Selasa (9/6).
Konsep tersebut sebagai pengembangan destinasi berbasis event yang mengangkat potensi alam dan budaya pesisir. Seluruh rangkaian juga dirancang tetap memperhatikan aspek keberlanjutan lingkungan.
Ia menjelaskan, pada sore hari, rangkaian dilanjutkan dengan tradisi Kakara, yakni aktivitas masyarakat mencari hasil laut saat air surut. Aktivitas ini menjadi daya tarik utama karena melibatkan langsung wisatawan dan warga lokal dalam suasana kebersamaan di pesisir.
“Yang tidak boleh itu merusak karang. Hanya mengambil kerang dan hasil laut lainnya, lalu kita masak bersama di Lokasi. Kemudian, malam harinya, Festival Kakara ditutup dengan pertunjukan seni budaya Bima di kawasan Pantai Lariti,” tuturnya.
Selain Festival Kakara, Dinas Pariwisata juga menyiapkan kolaborasi musik tradisional dan modern pada puncak peringatan 5 Juli. Pertunjukan ini melibatkan alat musik sarone, kandei, gong, gendang, seruling, dan gambus yang dipadukan dengan instrumen modern serta penyanyi daerah. “Seluruh alat musik tradisional kita padukan dengan alat musik modern. Bisa mengiringi berbagai genre, dari dangdut sampai rock,” ujarnya.
Saat ini, latihan intensif tengah dilakukan untuk menyatukan karakter permainan musik tradisional dan modern agar tampil harmonis di panggung utama. “Kita ingin menunjukkan bahwa alat musik tradisional ini bisa mengiringi berbagai genre musik. Ini juga diharapkan menjadi daya tarik baru di tingkat nasional,” katanya.
Pemerintah daerah berharap HJB ke-386 tidak berhenti sebagai seremoni tahunan, tetapi menjadi ruang pertemuan budaya, pariwisata, dan ekonomi kreatif yang memberi dampak langsung bagi masyarakat, khususnya pelaku usaha di sekitar lokasi kegiatan.
“Ketika event ini hadir, pasti akan banyak orang datang. Itu menjadi kesempatan bagi UMKM untuk bergerak dan menjajakan produk mereka,” pungkasnya. (hir)

