Dompu (Suara NTB) – Kondisi ekonomi nasional dan global pasca perang di Iran secara perlahan mulai dirasakan dampaknya di Kabupaten Dompu. Beberapa komoditas bahan pokok mengalami kenaikan, tetapi masih dapat dikendalikan.
Kenaikan sejumlah barang tertentu ini sebagai dampak dari menguatnya nilai tukar dolar, sehingga menyebabkan biaya impor bahan baku tertentu meningkat. Begitu juga dengan kenaikan biaya energi dan distribusi disebabkan oleh harga di tingkat konsumen.
“Tidak semua komoditas mengalami kenaikan karena faktor tersebut, sebab ada juga yang dipengaruhi oleh musim panen, ketersediaan stok, dan mekanisme permintaan serta penawaran,” jelas Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Dompu, Ir. H. Armansyah, M.Si, Jumat (12/6).
Disperindag Kabupaten Dompu, kata H Armansyah, terus melakukan pemantauan harga dan ketersediaan barang pokok. Pihaknya juga memperkuat koordinasi dengan pelaku usaha dan instansi terkait, untuk mendorong kelancaran distribusi. “Sehingga pasokan tetap terjaga dan kenaikan harga tidak membebani masyarakat secara berlebihan,” ungkapnya.
Armansyah menyampaikan, bahan sembako di Dompu sejauh ini masih cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Hal ini terlihat dari stok di tingkat distributor seperti minyak goreng, beras, gula, dan telur masih aman.
Meskipun harga barang pokok belum berpengaruh signifikan, tetapi harga material bangunan mengalami kenaikan cukup tinggi. Hal ini disebabkan stok semen kosong, sehingga harus didatangkan dari Kabupaten Sumbawa. “Tidak ada kapal pengangkut semen di Bima, karena sedang sibuk angkut jagung, makanya kita datangkan dari Sumbawa. Sehingga naik biaya angkut dari Sumbawa ke Dompu. Makanya harga semen juga naik,” kata H. Mansyur, salah seorang pedagang bahan bangunan di Dompu. (ula)

